Etos Kerja Orang Cina
Cina telah dikenal luas sebagai negara
super power masa depan dalam perekonomian dunia. Perekonomian Cina
menempati posisi kedua dilihat dari nilai Gross domestic product setelah
Amerika Serikat[1]. Cina juga merupakan negara dengan jumlah ekspor
terbesar di dunia[2].
Kita lihat sendiri di negeri kita, orang
Cina dikenal sebagai orang yang pandai berbisnis dan berdagang. Hampir
semua lini industri mereka masuki dan banyak yang memegang peran-peran
penting di sana. Jarang sekali kita temukan orang Cina di negeri kita
menjadi 'jongos', kebanyakan mereka menjadi bos walau kecil-kecilan.
Kira-kira apa rahasia mereka?
Jika berbicara mengenai rahasia
kemahiran bisnis orang Cina, maka tentu saya belum banyak tahu. Namun
saya sekedar ingin sharing pengalaman berkunjung dan bekerja di negeri
tirai bambu tersebut. Perusahaan IT tempat saya bekerja dipercayai untuk
menangani sebuah proyek IT oleh Petrochina. Maka saya dan tim pun
berangkat ke kota Xi'an, propinsi Shaanxi, untuk tugas tersebut. Selama
mengerjakan proyek di sana saya merasakan sendiri suasana bekerja yang
berbeda dengan di tanah air, selain perbedaan cuaca juga yang cukup
mencolok.
Dihari-hari pertama bekerja di sana, saya masih kikuk
menyesuaikan diri. Pasalnya pukul 07.30 pagi saya dan tim sudah
dijemput oleh jemputan khusus dari kantor. Jangan anda bayangkan pukul
07.30 di sana seperti suasana pukul 07.30 di Jakarta. Saat itu masih
gelap, langit masih hitam dengan sedikit keputih-putihan. Itu wajar saja
karena shalat subuh pun pukul 06.30. Perlu digaris-bawahi bahwa Cina
menerapkan sistem satu zona waktu, jadi memang wajar di sebagian ada
ketidak-sesuaian antara jam biologis dan jam matahari.
Perjalanan dari hotel ke kantor butuh waktu kurang lebih setengah jam.
Saya dan tim pun sampai di kantor Petrochina sekitar pukul 8 dan itu pun
masih agak gelap, belum terlihat matahari. And guess what, pegawai
kantor sudah mulai bekerja ketika itu walau belum kumpul semua.
Pukul 12.00 waktunya istirahat, sebagian besar pegawai keluar untuk
makan siang dan kembali pada pukul 13.00. Sebagian kecil ada yang masih
terlihat di ruang rapat dan ada juga yang memilih tidur siang di meja
kerjanya. Saya dan tim pun ketika itu memilih tinggal di kantor karena
belum tahu warung makanan halal di sekitar kantor. Terpaksa, nyeduh mi
instan yang kami bawa dari tanah air. Hingga pukul 16.00 pun datang,
bagi saya dan tim, ini sudah waktunya pulang. Namun supervisor kami dan
pegawai yang lain tidak ada tanda-tanda ingin menyudahi pekerjaannya.
Kami yang agak lelah. lapar (karena cuma makan mi instan) dan merasa
sudah berhak pulang pun merasa galau, karena belum ada info jemputan
pulang dan pegawai lain masih asyik bekerja. Walau agak sungkan saya pun
tanya kepada supervisor kami yang orang Prancis. Ternyata jemputan
pulang sudah dijadwalkan pukul 17.30 setiap harinya. Wow. Ternyata masih
satu setengah jam lagi. Apa boleh buat, saya kembali bekerja sambil
agak galau menunggu pukul 17.30.
Hingga akhirnya 17.30 tiba,
waktunya pulang. Namun timbul lagi rasa sungkan, karena rata-rata para
pegawai yang lain masih asyik-masyuk bekerja. Orang Indonesia jam segini
sudah santai di rumah, pikir saya. Tapi kami tetap pulang karena
khawatir sang supir jemputan kelamaan menunggu. Tapi pernah juga kami
bekerja agak berat sampai pulang agak telat, pukul 18.00 lebih. Dan
ternyata pukul segitu lah rata-rata para pegawai di sana mulai
berpulangan. Dan perlu diketahui ketika itu langit sudah gelap. Datang
ketika masih gelap, pulang ketika sudah gelap. Jadi, kalau kita hitung,
mereka bekerja sejak 08.00 hingga 18.00, sekurang-kurangnya 10 jam
sehari! Kalau di Indonesia ini sudah kadar workaholic.
Ya,
itulah satu hal yang paling saya rasakan dari orang-orang Cina selama
saya bekerja di sana, yaitu etos kerja mereka yang tinggi. Mereka juga
bekerja dengan serius, dan tidak bermalas-malasan. Ini mungkin satu dari
sekian hal yang jadi resep suksesnya Cina menjadi negara adidaya yang
menyaingi negara-negara Eropa dan Amerika.
Bagi umat Islam
sendiri, sesungguhnya etos kerja dan produktifitas yang tinggi serta
anjuran mengotimalkan waktu sebaik mungkin, sering ditekankan oleh Allah
dan Rasullah Shallahu'alaihi Wasallam. Bahkan produktifitas bagi
seorang Muslim bukan hanya sekedar dalam mencari dunia semata, bahkan
ketika waktu dan energi dicurahkan untuk meraih akhirat pun itu
terhitung produktif.
Semoga sharing yang sedikit ini bermanfaat.
Ditulis oleh Yulian Purnama, S.Kom,